Anak Yang Obesitas Cenderung Beresiko Memiliki Kerusakan Pada Jaringan Otak

Anak Yang Obesitas Cenderung Beresiko Memiliki Kerusakan Pada Jaringan Otak

- Inspirasi
197

Berdasarkan sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami obesitas dapat mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada daerah-daerah penting di otak.

 

SEMANGAT45.CO –  Berdasarkan sebuah penelitian menunjukkan bahwa  anak-anak yang mengalami obesitas dapat mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada daerah-daerah penting di  otak.

Dilansir dari Daily Mail, mereka menemukan bahwa anak yang kelebihan berat badan memiliki tanda-tanda kerusakan di area yang bertanggung jawab untuk mengendalikan nafsu makan, emosi dan kesenangan.

Studi terbaru yang dilakukan oleh Universitas Sao Paulo di Brazil, mengambil scan otak dari 120 anak usia 12 hingga 16. Lima puluh peserta mengalami obesitas, sementara sisanya adalah berat badan yang sehat.

MRI menunjukkan penurunan materi putih yang terletak di girus orbitofrontal tengah - wilayah otak yang terkait dengan kontrol emosional dan sirkuit hadiah.

Kerusakan bagian otak akibat obesitas berawal dari inflamasi pada berbagai jaringan tubuh, termasuk otak. Jika inflamasi terjadi pada bagian otak, maka dapat mengganggu perkembangan dan pemulihan jaringan otak sehingga terjadi kelainan.

Hal ini akan berakibat pada perilaku impulsive, yaitu suatu perilaku yang cenderung ‘tidak sabaran’ atau tidak berpikir panjang, dan hal ini merupakan tanda utama bahwa seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Orbifrontal cortex merupakan bagian otak yang mengatur berbagai perilaku seseorang, namun ahli neurologis menemukan bagian tersebut cenderung lebih kecil dari ukuran normal pada anak yang mengalami obesitas dibandingkan anak dengan berat badan yang ideal.

Mereka juga mengungkapkan sel-sel otak telah dihancurkan dalam corpus callosum, sebuah bundel serabut saraf yang menghubungkan bagian kiri dan kanan otak dan bertanggung jawab atas fungsi kognitif.

Tim mengatakan ini dapat menyebabkan rentang perhatian berkurang dan kesulitan berkonsentrasi.

Studi ini juga menemukan anak-anak obesitas kelebihan produksi leptin, hormon di otak yang mengendalikan nafsu makan.

Pada beberapa orang gemuk, otak tidak merespons leptin, menyebabkan mereka tetap makan meskipun cadangan lemaknya cukup atau berlebih. Kondisi ini, yang dikenal sebagai resistensi leptin, membuat otak memproduksi lebih banyak hormon kelaparan.

Rasa ketagihan adalah suatu kejadian yang sangat erat dengan fungsi otak dalam memberikan perintah untuk melakukan suatu kegiatan berulang, dan otak manusia secara alami memang sudah memiliki ketagihan pada makanan manis dan berlemak. Kondisi ketagihan ini akan menjadi lebih buruk jika seseorang mengalami obesitas. 

Penulis Dr Pamela Bertolazzi, seorang ilmuwan biomedis di Universitas Sao Paulo di Brazil, mengatakan: 'Perubahan otak ditemukan pada remaja gemuk terkait dengan daerah penting yang bertanggung jawab untuk mengendalikan nafsu makan, emosi dan fungsi kognitif.

'Peta kami menunjukkan korelasi positif antara perubahan otak dan hormon seperti leptin dan insulin.

"Selain itu, kami menemukan hubungan positif dengan penanda inflamasi, yang membuat kami percaya pada proses peradangan saraf selain resistensi insulin dan leptin."

Dia menyerukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah peradangan pada orang muda yang obesitas ini merupakan konsekuensi dari perubahan struktural di otak.

Obesitas sendiri dapat memicu banyak kondisi kesehatan yang berpotensi fatal di kemudian hari, termasuk penyakit jantung dan stroke, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2 dan kanker.

You may also like

Anak Yang Obesitas Cenderung Beresiko Memiliki Kerusakan Pada Jaringan Otak