Di Tahun 2016, Uber Merugi hingga Rp 10,7 Triliun

- Otomotif

Dikabarkan Uber mengalami kerugian pada tahun 2016 ini.

Dikabarkan Uber mengalami kerugian pada tahun 2016 ini. Disebutkan pada akhir kuartal ketiga lalu, Uber sudah merugi hingga 800 juta dollar AS atau setara dengan Rp 10,7 triliun.

Hal ini disampaikan oleh Head of Finance Uber, Gautam Gupta bahwa kerugian Uber semakin menggunung. Lalu apa penyebabnya? Penyebab utamanya disinyalir berasal dari subsidi yang masih terus diberikan Uber kepada mitra driver-nya. Ditambah lagi, promo-promo gencar yang terus dilakukan untuk menarik minat konsumen.

Angka kerugian ini masih bersifat rahasia, belum bisa dikonsumsi publik. Hal ini dikarenakan Uber belum membuka saham perdana alias IPO. Beberapa orang dalam Uber sendirilah yang kemudian membocorkannya kepada awak media.

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Selasa (20/12/2016) bahwa mereka menyebutkan, Uber merugi 520 juta dollar AS atau Rp 6,9 triliun pada kuartal pertama 2016 dan 850 juta dollar AS atau setara Rp 11,3 triliun pada kuartal kedua 2016.

Nah, ditambah lagi dengan kerugian pada kuartal ketiga, sehingga jika ditotal maka kerugian Uber selama sembilan bulan pada 2016 sekitar 2,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 29,4 triliun, belum termasuk bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Namun, sebenarnya pendapatan Uber tahun 2016 naik dan sesuai target yakni Uber dapat meraup 3,76 miliar dollar AS atau setara Rp 50,3 triliun selama sembilan bulan. Sehingga walaupun dikatakan merugi tapi nilai valuasi Uber pun makin kuat dikarenakan pendapatan Uber yang naik dan sesuai target.

Sekadar informasi, Jika ada yang mau membeli Uber saat ini, maka perlu merogoh kocek 69 miliar dollar AS atau setara Rp 924 triliun. Tahukah, nilai valuasi ini bahkan lebih besar daripada gabungan General Motors Co dan Twitter Inc. Keren ya.

Bagaimana dengan nasib perusahaan sejenisnya ya seperti Gojek dan Grab, apakah mereka juga mengalami kerugian? Gojek dikabarkan nilai valuasinya sudah mencapai Rp 17 trilun. Namun, kita yakin rapor keuangan perusahaan tersebut sepertinya masih merah saat ini.

Sebagai konsumen, kita merasa terbantukan dengan hadirnya perusahaan seperti Uber, Gojek dan Grab. Di samping murah, cepat, tentu yang paling utama adalah keamanan dan kenyamanan yang mereka berikan kepada konsumennya sehingga konsumen akan tetap menggunakan layanan mereka.

Berita Terkait

You may also like

Di Tahun 2016, Uber Merugi hingga Rp 10,7 Triliun