Kerukunan Dan Keberagaman Kuliner Di Simpang Kinol Kota Padang

- Jalan-jalan

Simpang Kinol adalah pusat pasar kuliner malam yang lokasinya mempertemukan Jalan Niaga, Jalan Imam Bonjol, Jalan Tepi Pasang, dan Jalan Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

SEMANGAT 5.CO – Jika Yogyakarta punya Jalan Malioboro sebagai kawasan kuliner malam, maka  Sumatera Barat memiliki pasar kuliner malam yaitu Simpang Kinol yang terletak di Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Simpang yang mempertemukan Jalan Niaga, Jalan Imam Bonjol, Jalan Tepi Pasang, dan Jalan Pondok itu menyediakan seabrek makanan, mulai dari masakan khas Minangkabau, khas nusantara, hingga mancanegara saling menggoda untuk menggugah selera.

Ragamnya kuliner di kawasan Kinol berbanding lurus dengan keragaman latar belakang 50 lebih pedagang setempat.  Tidak semua pedagang berasal dari Kota Padang atau bersuku Minangkabau sebagai mayoritas penghuni Sumatera Barat.

Mereka bercampur dengan berbagai latar belakang daerah, suku, serta etnis,  mulai dari Kota Payakumbuh, Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan lainnya, sedangkan dari luar Sumbar, seperti Sumatera Utara, Jawa, dan Jambi. Dari sisi suku serta etnis, di Simpang Kinol terdapat pedagang berlatar berlatar belakang Nias, Tionghoa, hingga India.

Intinya ketika mengunjungi pasar kuliner Simpang Kinol, maka keanekaragaman itu akan langsung tertangkap secara kasat mata.

Meskipun begitu, mereka tetap rukun dengan perbedaan serta kemajemukan yang terhidang di depan mata dan tidak membuat para pedagang saling berseteru, berkonflik, apalagi sampai berperilaku radikal. Mereka bisa rukun dan harmonis di tengah keberagaman. Bahkan sejak tiga dekade belakangan tanpa pernah muncul sentimen berbau suku agama ras, dan antargolongan (SARA).

Karena itu, sejatinya Simpang Kinol yang berada di kawasan Pondok (Pecinaan) bukan hanya soal pasar kuliner, tetapi juga menggambarkan betapa indahnya kerukunan dan toleransi di tengah perbedaan.

"Kami tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain, semuanya akrab. Yang penting hindari perasaan iri," kata Swani Wati (55), sang empunya Warung Kopi Saudara.

Swani yang merupakan isteri dari Alfian berlatar belakang Tionghoa dan bisa dikatakan sebagai generasi pertama yang berjualan di Simpang Kinol, terhitung sejak 1985.

Ia menjadi saksi akan toleransi serta kerukunan yang terawat dengan baik di kawasan tersebut selama berpuluh-puluh tahun.

"Sampai sekarang meskipun kami berbeda-beda tapi tak pernah ada masalah. Kami akur dan saling-membantu satu sama lain," katanya.

Ucapan toleransi dari mulut Swani rasanya sulit untuk disanggah. Sebab ia tidak sedang berteori, tetapi sedang mengisahkan apa yang pernah dipraktikkan. Kalau hanya sebatas teori, tak mungkin Swani secara sukarela membagi teras kedainya untuk gerobak Armen (45) yang berjualan nasi goreng.

Padahal, jika ditilik antara mereka tak ada singgungan sama sekali, karena Armen adalah suku Minangkabau yang berasal dari Guguak, salah satu kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Pertama kalinya mereka bertemu saat Armen mencari tempat untuk berjualan pada 2000, kemudian Swani mengizinkan teras kedainya. Bahkan tanpa sewa.

Setelah berjalan sekitar 20 tahun, hubungan mereka kian hangat dan akrab tanpa terpengaruh oleh perbedaan latar belakang.

Di sela-sela aktivitas berjualan, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi atau "guyon". Tidak jarang juga mereka berbagi informasi terbaru atau membahas isu hangat di Kota Padang.

Bisa dikatakan hubungan mereka itu tidak sebatas hubungan dagang belaka. Tapi sudah mirip seperti keluarga karena memang bertemu setiap hari.

Secara lebih luas, kerukunan itu tidak hanya berhenti sampai di Armen, Swani, atau suaminya Alfian. Tapi juga sesama pedagang yang berjumlah 50 lebih tanpa membedakan pedagang toko atau kaki lima.

Oleh karena itu , tidak mengherankan kalau pengunjung dari tempat sate bisa mengakses atau memesan jus jeruk di pedagang lain tanpa harus pindah tempat.

Sistemnya semacam "kongsi" yang bisa mengintegrasikan para pedagang sebagai satu kesatuan besar, berbekal saling percaya. Sistem yang demikian sudah sama-sama dipahami dan diterapkan oleh para pedagang di Kinol, hingga mereka saling terkoneksi satu sama lain.

Walaupun begitu, sistem "kongsi" dikecualikan bagi beberapa jenis minuman atau makanan yang memang jadi khas satu tempat, termasuk kopi, teh, dan lainnya. Para pengunjung tidak bisa memesan kopi atau teh dari kedai lain, jika sedang duduk di warung kopi.

"Karena sudah saling akrab, kami sesama pedagang bisa saling membantu," begitu kata Aulia Rizky (26), pemilik Sate Danguang-danguang di kawasan Kinol.

Menurutnya sistem itu bisa berjalan mulus karena memang para pedagang sudah saling mengenal dan saling percaya.

"Kalau ada pembeli di sini (Sate Danguang-danguang), lalu mau memesan soto atau nasi goreng dari pedagang lain, maka tinggal disebutkan. Nanti kami pesankan ke pedagangnya," terangnya.

Aulia yang merupakan generasi kedua pemilik Sate Danguang-danguang meneruskan mendiang ayahnya Jhoni Hendri A.B. itu, mengaku senang akan sikap saling membantu dan menghormati tersebut.

Kalau berbicara sate di Simpang Kinol ada banyak jenis sate selain Sate Danguang-danguang, tapi para pedagangnya tetap seia sekata.

Solidaritas antarpara pedagang juga patut diacungi jempol, karena saat ada kematian mereka akan mengumpulkan sumbangan bersama-sama.

Penjual Gado-gado

Jika berbicara soal betapa terbukanya sikap pedagang Simpang Kinol terhadap perbedaan, maka sosok Didit Eko Pratomo (39) tak bisa dilupakan.

Lelaki keturunan India tersebut menggenggam suatu paradoks budaya yang akhirnya melebur dengan baik atas bantuan toleransi.

Bagaimana tidak, ia yang berjualan dengan gerobak di pinggir Jalan Tepi Pasang melakoni sebuah peran yang jarang ditemui.

Jika melihat keturunan India yang berjualan briyani, ayam tandoori, dan sejenisnya maka bukan sesuatu yang mengagetkan. Sebab asal makan tersebut memang dari negeri Barata sebutan bagi negara India.

Tapi melihat seseorang berdarah India menjual gado-gado, maka itu hal menarik untuk diamati, sebab gado-gado makanan khas Indonesia yang-kebanyakan penjualnya juga orang Indonesia.

Berbekal kepandaian dari mertuanya yang juga berdarah India, Didit Eko Pratomo mulai berjualan gado-gado di pasar kuliner Simpang Kinol sejak 2013.

Namun begitu, ia tetap bisa berdagang secara aman dan nyaman tanpa ada yang mengganggu. Setidaknya Didit mempertegas bahwa sikap toleran di kawasan Kinol memang telah berjalan dengan baik.

Hubungannya dengan pedagang lain di Kinol pun tak ada masalah. Bahkan dengan sesama penjual gado-gado berdarah Minangkabau yang jaraknya tak sampai sepuluh meter dari tempatnya berjualan.

Alih-alih bermusuhan, mereka bisa berteman secara akrab. Tidak jarang keduanya meminjam-pakai bahan gado-gado ketika habis.

"Kalau bahan saya abis maka saya pinjam bahannya dulu, begitu juga sebaliknya. Kita hanya perlu harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain," sambungnya.

You may also like

Kerukunan Dan Keberagaman Kuliner Di Simpang Kinol Kota Padang