Peter Pan Syndrome Dan Cinderella Complex Terbentuk Dari Pola Asuh Di Rumah

Peter Pan Syndrome Dan Cinderella Complex Terbentuk Dari Pola Asuh Di Rumah

- Inspirasi
464

Menghindari perceraian dini karena Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adversity Quotient ditentukan oleh pola asuh yang ada di rumah. Semua ini berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yg tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient.

 

SEMANGAT45.CO – Menghindari perceraian dini karena Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adversity Quotient ditentukan oleh pola asuh yang ada di rumah.

Apa itu Peter Pan Syndrome dan Cinderella Complex ? Peter pan syndrome dan cinderella complex merupakan sindrom yang dapat membuat seseorang tidak mandiri meskipun mereka sudah memasuki usia dewasa. 

Semua ini berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yg tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient atau kemampuan untuk survive dalam menghadapi masalah kehidupan. Yang pada gilirannya akan mencetak laki-laki dengan peter pan syndrome, yaitu yang tidak pernah dewasa. Atau anak perempuan dengan cinderella complex yg mengharap ‘prince charming’ datang utk menyelamatkannya, karena tak mampu menghadapi kesulitan hidup akibat terlalu dilindungi.

Pernahkah kamu menyuapkan makanan pada anak kamu yang sudah SD karena kuatir dia sakit jika tidak makan ?

Atau pernahkah kamu melihat anak SD berjalan melenggang sementara Ibu atau pengasuhnya membawakan tas mereka.

Atau jika kamu ditelepon anak kamu dari sekolah karena buku PRnya ketinggalan, apakah kamu akan tergopoh-gopoh datang ke sekolah untuk mengantarkannya, alih-alih menyuruhnya pulang atau membiarkannya disetrap karena kelalaiannya.

Apakah kamu membuka satu per satu buku anak untuk mencari PRnya, kemudian mengoreksi PR dengan tangan kamu bahkan menolong membuatkan supaya nilainya bagus.

Jika ketiga hal di atas terjadi pada kamu, maka waspadalah! kamu sedang menjerumuskan karakter diri anak kamu. Kasih sayang yang kamu berikan akan merusak kemampuannya untuk survive di masa depan.

Ciri-ciri  anak dengan peter pan syndrome adalah mereka terbiasa hidup nyaman tanpa beban tanggung jawab, tidak suka bekerja keras, kegiatannya banyak main-main, tidak pernah punya tanggung jawab, tidak bisa mandiri atau dewasa, tidak berani mengambil keputusan dan takut menanggung resiko, kurang percaya diri, enggan hidup sendiri karena mengalami ketergantungan pada orang lain.

Pada anak-anak dengan pola asuh yg potensial menimbulkan Peter pan syndrome biasanya cenderung : Suka menentang, pemberontak, susah punya komitmen, pemarah (marah jika kemauannya tidak terpenuhi), tidak bisa menerima kritikan, mudah sakit hati, terlalu cinta pada diri sendiri, senang memanipulasi dan menolak hubungan dengan lawan jenis. Akibatnya mereka punya masalah tidak tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan, mereka tidak mampu berpikir tentang dirinya dan apalagi menangani problem yg menimpa. Karena sejak kecil semua masalahnya diatasi bunda, ayah atau pengasuhnya.

Cinderella komplex biasanya menimpa anak wanita yang selalu dilindungi atau yang hidupnya dalam keadaan tertekan. Ia mengharap ada figur yag dapat menyelamatkannya disetiap masalah yang dihadapi. Tanpa berusaha untuk berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan.

Dengan pola asuh salah orang tua potensial membentuk karakter laki-laki dengan ciri peter pan  syndrome akibat dimanja dan dibela setiap melakukan kesalahan, dilindungi dan dituruti keinginannya. Sementara anak perempuan dengan ciri cinderella komplex tidak dididik untuk menerima kenyataan hidup dan diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending tanpa tahu bahwa happy ending adalah reward dari a long and winding journey of struggling in life.

Kedua karakter ini di masa depan akan mengkontribusi dunia dengan generasi yg memiliki AQ (Adversity Quotient) yg sangat rendah. Apabila keduanya bertemu dan menikah besar kemungkinan perceraianlah yg terjadi atau never have happy ending.

Karena mereka tidak memiliki cukup AQ untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ ditentukan kadar kemampuan orang mengatasi kemelut tanpa menjadi putus asa.

Akhir-akhir ini, setelah gencar ESQ ditingkatkan, sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual. AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang-orang yang secara karier dan materi sukses, tapi tidak dapat meraih kebahagian akibat rendahnya AQ. Terutama dalam membina hubungan dalam rumah tangga.

AQ adalah indikator untuk melihat :

1. Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tahu cara mengatasi situasi yang membuat penderitaan.

2. Keterampilan untuk menerima dan menyelesaikan setiap tantangan.

3. Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience)

Perusahaan maju mulai melihat indikator di atas sebagai patokan dalam merekrut karyawan baru. Selain IQ, EQ dan ESQ.

Untuk memberikan gambaran AQ ini, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga jenis :

1. Quitter (Mudah menyerah). Para quitter adalah para pekerja yg sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan saat menerima tantangan.

2. Camper (Berkemah di tengah perjalanan). Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yang terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.

3. Climber (pendaki yg mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, dibalik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Tetepi hasil terhebat akan diperoleh jika kamu mampu menginstal AQ ini dalam diri putra-putri kamu.

Untuk menghasilkan anak dengan ketangguhan seorang Climber yg memiliki AQ tinggi, kamu harus memperhatikan 9 aspek perkembangan : Fisik dan kesehatan, daya tahan mental, kestabilan emosi, kemampuan sosial, keimanan dan ibadah kepada Tuhan, keterampilan dan seksualitas yang normal.

So, mau dibawa ke mana pola asuh yang kamu terapkan di rumah sepenuhnya adalah hak kamu. Tetapi untuk menjadikan anak yang tangguh perlu banyak belajar, usaha dan sabar. Sebelum bicara tentang AQ untuk anak kamu, mari berkaca dan meyakini sudah sejauh mana kamu sendiri mengembangkan AQ diri kamu, dan berusaha meningkatkannya.

You may also like

Peter Pan Syndrome Dan Cinderella Complex Terbentuk Dari Pola Asuh Di Rumah