Wisata Alam Yang Indah Dan Sejuk Di Utara Pulau Lombok

- Jalan-jalan

Lombok adalah daerah dimana penuh dengan pesona alamnya yang indah dan alami, tidak heran wisatawan domestik maupun mancanegara berdatangan ke Lombok.

SEMANGAT45.CO – Lombok adalah daerah dimana penuh dengan pesona alamnya yang indah dan alami, tidak heran wisatawan domestik maupun mancanegara berdatangan ke Lombok.

Pantai yang ada di Lombok tidak kalah indahnya dengan yang ada di Bali, bahkan lebih alami dan lebih disukai oleh para turis asing.

Apalagi saat ini sedang dibangun lintasan sirkuit Mandalika yang di mana akan menjadi salah satu tempat berjalannya ajang MotoGP. Hal ini akan menambah banyaknya turis mancanegara untuk datang ke Lombok.

Tidak kalah dengan pantainya, pesona alam pegunungannya juga banyak menarik para pendaki untuk datang ke Lombok, siapa yang tidak kenal dengan Gunung Rinjani? Gunung dimana menjadi favorit bagi para pendaki atau pecinta alam.

Menyebut nama Desa Senaru khusus kalangan pendaki gunung, tentunya sudah tidak asing. Karena bagi pendaki Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 Meter di atas Permukaan Laut (Mdpl), desa itu menjadi titik perlintasan pendakian.

Desa Senaru ini tepatnya berada di kaki gunung yang dahulunya dikenal dengan nama Gunung Samalas. Bagi kalangan pendaki, jika mereka memulai pendakian dari Sembalun, Lombok Timur bisa turun melalui Desa Senaru, Lombok Utara dengan sebelumnya melewati dahulu Danau Segara Anak.

Sehingga ada istilah "kurang afdol" jika tidak melewati jalur Sembalun dan turun ke Senaru. Apakah hanya Gunung Rinjani saja yang ada di Desa Senaru itu? Jawabannya tidak, masih ada objek wisata lainnya yang bisa dikunjungi di desa pemekaran dari Desa Bayan tersebut.

Yakni, Air Terjun Sendang Gile, Air Terjun Tiu Kelep, sampai Kampung Adat Bayan. Melihat segudang objek wisata alam itu sehingga tidaklah mengherankan Desa Senaru termasuk dalam "Pengembangan Desa Wisata Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika".

Sedikit gambaran, Air Terjun Sendang Gile memiliki ketinggian 31 meter. Sumber airnya tentunya berasal dari Gunung Rinjani. Benar-benar menyejukkan mata untuk beristirahat di objek wisata, dimana terdapat "berugak" (Bahasa Sasak) atau bale-bale di areal tersebut.

Untuk mencapai objek wisata ini, pengunjung harus menuruni "seribu" tangga. Lumayan untuk mengeluarkan peluh sekaligus berolahraga. Setelah sampai di dasar lembah, terlihatlah air terjun nan ciamik itu.

Sedangkan Air Terjun Tiu Kelep lebih eksotik lagi dengan banyaknya air terjun di satu lokasi di antara kerimbunan pepohonan. Nama Tiu Kelep sendiri dalam bahasa Indonesia, yakni, Air Terbang.

Tinggi air terjun ini sekitar 40 meter. Untuk mencapai lokasi tersebut, pengunjung harus melintasi jalan setapak sekitar 45 menit dari Air Terjun Sendang Gile.

Kampung Adat Bayan. Siapa yang tidak tahu kampung ini?. Kampung ini bagian khusus masyarakat Suku Sasak dan dikenal sebagai pusat budaya tertua Pulau Lombok.

Kampung adat Bayan bisa terlihat saat akan memasuki pintu gerbang Gunung Rinjani dengan rumah tradisionalnya yang khas, seperti atap dari alang-alang dan bertembok bilik. Serta tidak lupa terdapat berugak.

Kampung adat Bayan juga memiliki masjid yang berusia ratusan tahun yang dikenal dengan nama Masjid Bayan Beleq.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki Desa Senaru seperti itu, menurut Kepala Desa Senaru, Raden Akria Buana, tidak mengherankan desanya masuk dalam Pengembangan Desa Wisata Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika.

Melihat potensi yang teramat besar itu, warga Desa Senaru tidak ingin menjadi tamu di tanahnya sendiri mengingat semua pengelolaan objek wisata itu saat ini dikuasai oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Utara sejak 2014 sehingga mereka menuntut untuk dikembalikan lagi.

"Tanah itu (obyek wisata) merupakan milik adat jadi harus dikembalikan kepada pemiliknya," kata Raden Akria.

Aset objek wisata yang dimiliki Desa Senaru, yakni, Air Terjun Sendang Gile, diambil alih oleh Pemkab Lombok Utara sejak 2015 dan pendakian Gunung Rinjani sejak 2014.

Sebelum diambil alih, kata dia, pihak desa telah dijanjikan aturan persentase pendapatan obyek wisata tersebut. Seperti, 15 persen untuk Desa Bayan selaku pemilik sumber air dan hutan adat serta "Meloqa Perumbaq Daya" (mengawasi hutan adat dan satwa), 30 persen untuk pemerintah daerah, dan 50 persen untuk pemilik aset yakni Desa Senaru.

Namun sayangnya, aturan pembagian pendapatan tidak berjalan dan kenyataannya saat ini semuanya diambil oleh Pemkab Lombok Utara.

Raden Akria bahkan mengungkap, tenaga kerja pengelolaan wisata itu juga berasal dari luar Desa Senaru. "Kami benar-benar jadi penonton di daerah sendiri," tandasnya.

Pengambilalihan aset itu oleh Pemkab Lombok Utara dilakukan tanpa musyawarah dengan masyarakat, padahal seluruh aset itu merupakan milik leluhur masyarakat desa adat Bayan sehingga wajar sekarang mereka  meminta kembali pengelolaan itu.

Permintaan Raden Akria itu mempunyai dasar hukum yaitu  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa juga telah mengatur soal pengelolaan aset desa tersebut. Pemerintah desa menginginkan desa mereka menjadi desa wisata yang dikelola warga setempat sehingga peningkatan kesejahteraan juga dirasakan seluruh warga.

 

You may also like

Wisata Alam Yang Indah Dan Sejuk Di Utara Pulau Lombok