Kreativitas Guru Jadi Modal Pelajar untuk Ikut Lomba Tingkat Internasional

- Motivasi

Tentu untuk menuju nasional dan internasionalnya peran kreasi guru sangat penting. Sehingga selanjutnya jauh lebih mudah memolesnya.

CARAPANDANG.COM - If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants – begitu kata saintis Isaac Newton. Hal tersebut menunjukkan peran para senior, penemu di era sebelumnya yang turut membantu mengembangkan ilmu pengetahuan. The 14th International Junior Science Olympiad memperebutkan 29 medali emas, 64 medali perak, dan 91 medali perunggu. Lebih dari 300 peserta berusia 15 tahun dan lebih muda, dari 50 negara mengikuti IJSO 2017. Ajang IJSO sendiri menguji pengetahuan dan keterampilan para peserta di bidang Fisika, Biologi dan Kimia.

Tim Indonesia diwakili oleh Lugas Firdinand Hamdi, Peter Addison Sadhani, Wilsen Chandra Putra (Tim A Indonesia), Carin Abbie Reyhani. Steven William (Tim B Indonesia). Tim Indonesia pada IJSO 2017 ini berhasil melanjutkan tradisi emas pada penyelenggaraan sebelum-sebelumnya. Tim Merah Putih berhasil meraih 2 medali emas dan 3 medali perak pada IJSO 2017.

Keberhasilan di event prestisius tersebut tak dapat dilepaskan dari peran kreasi guru yang mengajar mereka di jenjang Sekolah Menengah Pertama.

“Tentu untuk menuju nasional dan internasionalnya peran kreasi guru sangat penting. Sehingga selanjutnya jauh lebih mudah memolesnya,” kata leader Tim Indonesia di IJSO 2017, Ahmad Ridwan di Terminal 2 bandar udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu malam (13/12).

Sebelum terjun ke IJSO 2017, seleksi dan pengayaan materi dilakukan melalui training center 1 yang berlangsung selama 2 minggu, training center 2 selama 1 bulan, dan training center 3 dalam durasi 1,5 bulan. Para peserta training center merupakan para peraih medali di Olimpiade Sains Nasional jenjang SMP Tahun 2017.

“Kita sudah punya standar pembekalan. Dan kita sudah on the track untuk itu. Persoalannya kan output yang kita dapat dari seleksi nasional. Harapan kita nanti apa-apa yang didapatkan dari seleksi nasional sudah terstandar bagus. Sehingga untuk internasional kita jauh lebih bisa diprediksi mau dapat 5 emas, 4 emas, atau 2 emas,” ujar Ahmad Ridwan yang merupakan dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB seperti dilansir situs ditpsmp.

Training center 1 dan 2 dihelat di The Jayakarta Suites Bandung. Sedangkan untuk training center 3 dilakoni di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Dipilihnya kedua tempat tersebut tak terlepas dari kerja sama yang dilakukan dengan pihak ITB dan UI. Dalam melakukan latihan eksperimen pun dilakukan di kampus ITB dan UI. Para pengajar pelajar SMP ini di training center merupakan para dosen-dosen dari Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia. Di training center yang total dilaksanakan selama 3 bulan inilah pengayaan materi dilakukan.

Berita Terkait

You may also like

Kreativitas Guru Jadi Modal Pelajar untuk Ikut Lomba Tingkat Internasional